CIKARANG PUSAT – Motor Honda Win butut itu masih saya ingat suaranya.
Dulu, tahun 2006 awal, saya liputan masih bekerja di salah satu koran mingguan nasional menyisir beberapa Kampung Desa di Kabupaten Bekasi dari ujung ke ujung. Bensin eceran masih Rp4,500,- (empat ribu lima ratus rupiah), bawa tas kecil isinya buku catatan kecil, tape recorder, kamera saku, ditengah terik matahari hingga baju berkeringat basah Dari Cikarang yang bising pabrik, sampai Muaragembong yang jalan lumpurnya menelan ban motor.
Kabupaten Bekasi ternyata tidak pernah berubah. Ia tetap punya dua wajah. Dan dua-duanya, saya lihat sendiri.
WAJAH PERTAMA: SELATAN YANG TIDAK PERNAH TIDUR
Cikarang. Tambun. Deltamas.
Di sini, jam 2 pagi pun lampu pabrik masih menyala. Deru forklift, sirene shift malam, truk kontainer berderet ke Tol Jakarta-Cikampek.
Ini jantung industri Asia Tenggara. Jababeka, MM2100, EJIP, Delta Silicon, GIIC. Nama-nama yang dulu hanya saya tulis sebagai rilis, kini menjadi raksasa.
Data Pemprov Jabar mencatat: Investasi Bekasi 2025 tembus Rp81,84 triliun, tertinggi di Jawa Barat. Triwulan III saja sudah Rp61,78 triliun.
Tapi di balik angka triliunan itu, pertanyaan lama saya sebagai wartawan lapangan masih mengganjal:
Berapa anak muda Babelan yang benar-benar jadi operator di pabrik itu? Berapa ibu-ibu Sukatani yang dagangannya laku karena ada kawasan industri?
WAJAH KEDUA: UTARA YANG SETIA MENUNGGU
Lalu saya tarik gas ke utara. 40 kilometer dari hiruk pikuk Cikarang.
Sukatani, Sukakarya, Cabangbungin, Babelan hingga Tarumajaya dan Muara Gembong .
Tidak ada suara mesin. Yang ada hamparan sawah menguning, tambak bandeng yang airnya keemasan saat sore, dan hutan mangrove yang akarnya mencengkeram lumpur, menahan abrasi dan rob.
Di sinilah saya pernah mendorong motor karena banjir rob setinggi lutut. Petani mengeluh irigasi mampet, nelayan mengeluh hasil tangkapan turun.
Muaragembong itu bukan sekadar peta. Itu lumbung pangan. Itu paru-paru pesisir Bekasi. Tapi selama ini, ia sering hanya jadi catatan kaki dalam rapat pembangunan.
Padahal, di perut bumi utara, ada denyut lain: sumur minyak Babelan, Gabus, Muaragembong, dan gas Blok Jatirarangon. Bekasi itu kaya, Tidak hanya dari pabrik, tapi dari bumi dan lautnya sendiri.
DI TENGAH: CIKARANG PUSAT YANG MEMIKUL BEBAN
Di antara dua wajah itu, ada Cikarang Pusat. Kota Deltamas.
Dulu, tempat ini sepi. Sekarang? Kantor Bupati megah, AEON Mall, Lippo Mall, kampus, rumah sakit.
Ia lahir untuk menjadi penengah. Menjadi jembatan. Menyatukan deru mesin selatan dengan desir angin utara.
Bukan tugas mudah. Tapi di situlah makna Swatantra Wibawa Mukti diuji. Sesanti Kabupaten Bekasi: mampu mengurus rumah tangganya sendiri, berwibawa, dan makmur.
Makmur yang seperti apa? Itu pertanyaannya.
ENAM KEISTIMEWAAN, SATU HARAPAN
Dari catatan lapangan bertahun-tahun dan data resmi, saya merangkum Bekasi dalam enam keistimewaan:
1. Raksasa Industri: Magnet investasi global.
2. Lumbung Pangan Utara: Sawah, tambak, dan mangrove Muaragembong yang harus dijaga.
3. Energi & SDA: Minyak dan gas yang harus dikelola transparan.
4. Kota Modern: Cikarang Pusat yang harus membangun transportasi dan ruang publik, bukan hanya mal.
5. CSR yang Jujur: Di era Plt Bupati Asep Surya Atmaja, ada Gerak CSR Solid. Saya setuju. Asal jangan jadi spanduk. Petakan kebutuhan desa. Ukur manfaatnya. Utamakan sekolah, keterampilan warga lokal, UMKM, dan pesisir.
6. Wisata yang Manusiawi: Jembatan Cinta Tarumajaya, Alun-alun Setu, Karang Kitri Bojongmangu. Jangan jadikan warga hanya tukang parkir. Jadikan mereka tuan rumah.
CATATAN AKHIR DARI MANTAN KULI TINTA
Data SIDANTA Semester I 2026 mencatat: 3.508.296 jiwa tinggal di Bekasi. Laki-laki 1.772.276, perempuan 1.736.020. Besar. Ini modal, juga tanggung jawab.
APBD 2025 sekitar Rp7,6 triliun, dengan PAD Rp4,1 triliun. Lebih dari setengah uang Bekasi, dihasilkan sendiri. Kita mandiri secara fiskal. Hebat.
Tapi, bagi saya yang pernah tidur di pos ronda Muaragembong sambil menunggu air rob surut, ukuran keberhasilan bukan di atas kertas.
Ukurannya sederhana:
Apakah uang itu sampai ke jalan berlubang di Sukatani?
Apakah sampai ke atap kelas yang bocor di Muaragembong?
Apakah sampai ke antrean panjang di Puskesmas Babelan?
Kabupaten Bekasi punya semua modal: industri di selatan, pangan di utara, pusat pemerintahan di tengah.
Yang ia butuhkan hanya satu: Satu kabupaten, satu arah pembangunan.
Dari industri untuk peradaban. Dari utara hingga selatan, pembangunan harus menghadirkan kesempatan yang sama.
Itulah Swatantra Wibawa Mukti adalah
Daerah yang mandiri, bermartabat, dan makmur bersama-sama. Bukan makmur sebagian.
Ditulis oleh: Heru Budiman | Mantan Jurnalis Koran Harian Karawang Bekasi Ekspres (KBE) – Jawa Pos Group
