CIKARANG UTARA –Ada nama yang tertinggal sebagai kenangan. Ada pula nama yang terus hidup dalam percakapan masyarakat, bahkan setelah sosok yang melekat padanya telah tiada.
Bagi sebagian orang di Kabupaten Bekasi, nama Eka Supria Atmaja bukan sekadar nama seorang mantan bupati. Ia juga meninggalkan jejak dalam dinamika sosial dan politik daerah, termasuk melalui komunitas yang dikenal dengan nama Esa Asa Kita, yang pada masanya dipimpin tokoh pemuda Ano Susanto, S.T.
Minggu malam, 11 Juli 2021, menjadi hari duka bagi Kabupaten Bekasi. Eka Supria Atmaja meninggal dunia saat menjalani perawatan akibat COVID-19. Kepergiannya mengakhiri perjalanan seorang kepala daerah yang ketika itu masih menjalankan masa jabatan periode 2017-2022.
Namun, dalam perjalanan waktu, nama ESA kembali menarik perhatian ketika Kabupaten Bekasi memasuki babak politik yang baru.
Esa Asa Kita, lebih dari sekadar rangkaian kata
Nama Esa Asa Kita memiliki filosofi yang sederhana, tetapi sarat makna. Esa berarti satu atau kesatuan, Asa bermakna harapan, sedangkan Kita menegaskan kebersamaan.
Jika dirangkai, ketiganya menggambarkan satu harapan dan satu tujuan yang hendak diwujudkan melalui semangat persatuan, kekeluargaan, dan gotong royong.
Pada era Eka Supria Atmaja, menurut keterangan mengenai sejarah komunitas, Esa Asa Kita bergerak di luar struktur birokrasi pemerintahan. Orientasinya mencakup kegiatan sosial kemasyarakatan, membantu warga, serta menggalang kepedulian terhadap masyarakat yang membutuhkan pertolongan.
Kegiatan sosial, bantuan bagi warga terdampak banjir, dan pendampingan masyarakat menjadi bagian dari gambaran aktivitas komunitas tersebut. Di sisi lain, Esa Asa Kita juga menjadi wadah dukungan terhadap kebijakan Eka sebagai bupati, sekaligus mendukung kiprah politik Eka dan dr. Asep Surya Atmaja, yang ketika itu merupakan anggota DPRD Kabupaten Bekasi.
Dengan demikian, komunitas ini memiliki dua sisi perjalanan: pengabdian sosial dan partisipasi dalam dinamika politik lokal.
Ketika ESA pergi, sejarah tidak berhenti
Wafatnya Eka pada Juli 2021 menjadi titik penting dalam perjalanan politik Kabupaten Bekasi. Kepergian seorang pemimpin tidak serta-merta menghapus kenangan, hubungan sosial, maupun berbagai cerita yang terbentuk selama masa kepemimpinannya.
Di sinilah nama Esa Asa Kita memperoleh dimensi historis tersendiri. Ia menjadi pintu untuk menelusuri bagaimana gerakan masyarakat, kegiatan sosial, dan dukungan politik berkelindan dalam kehidupan daerah.
Dari ESA, muncul kembali nama ASA
Kini, nama ASA kembali berada dalam sorotan politik Kabupaten Bekasi. dr. Asep Surya Atmaja, yang merupakan adik kandung almarhum Eka, sedang menjalani proses menuju jabatan bupati definitif setelah sebelumnya menjabat Pelaksana Tugas (Plt) Bupati Bekasi.
Pada Jumat, 16 Oktober 2026, DPRD Kabupaten Bekasi melakukan rapat paripurna pengusulan Asep menjadi bupati definitif. Tahapan tersebut merupakan bagian dari proses administrasi pemerintahan, bukan berarti pengangkatan definitif telah selesai. Prosesnya masih berlanjut ke Gubernur Jabar dan Mendagri.
Kondisi inilah yang menghadirkan permainan kata yang menarik: “Dulu ESA, sekarang ASA.”
ESA merujuk pada Eka Supria Atmaja, sedangkan ASA merupakan singkatan nama Asep Surya Atmaja. Secara simbolis, ungkapan tersebut dapat dibaca sebagai peralihan dari kenangan terhadap seorang pemimpin yang telah wafat menuju babak baru kepemimpinan yang tengah berjalan.
Warisan terbesar bukan nama, melainkan manfaat
Jika Esa Asa Kita dahulu membawa pesan satu harapan dan satu tujuan bersama, maka pertanyaan yang relevan hari ini adalah bagaimana nilai tersebut dapat terus hidup di tengah perubahan zaman.
Apakah semangat gotong royong masih terjaga? Apakah kepedulian kepada warga tetap menjadi prioritas?
Sebab, dalam kehidupan demokrasi, dukungan bukan berarti meniadakan kritik. Kepedulian terhadap daerah justru dapat diwujudkan melalui pengawasan, keterbukaan, dan keberanian menyampaikan aspirasi.
Eka Supria Atmaja telah berpulang. Asep Surya Atmaja kini menghadapi babak kepemimpinan yang berbeda dengan tantangan dan tanggung jawabnya sendiri. Sementara itu, sejarah Esa Asa Kita tetap menarik ditelusuri sebagai bagian dari dinamika sosial-politik Kabupaten Bekasi.
Pada akhirnya, dari ESA ke ASA bukan sekadar permainan singkatan nama. Ia adalah pertanyaan tentang apa yang tetap tinggal setelah seorang pemimpin pergi: kenangan, jaringan sosial, atau nilai pengabdian yang benar-benar dirasakan masyarakat.
Karena nama bisa berganti, jabatan bisa berpindah, dan zaman bisa berubah. Namun, harapan yang pernah dihimpun atas nama kebersamaan hanya akan bermakna apabila terus diwujudkan dalam kerja nyata bagi masyarakat Kabupaten Bekasi. (her)

