Kedungwaringin – Komisi II DPRD Kabupaten Bekasi inpeksi mendadak (Sidak) lapak pedagang Pasar Bojong pasca kebakaran di Kecamatan Kedungwaringin, Selasa (12/8). Hasilnya, sangat mengkhawatirkan. Tiga bulan paska kebakaran. Ketua Komisi II DPRD Kabupaten Bekasi, Ani Rukmini mengatakan hasil dialog dengan pedagang, akan dibangun lapak penampungan sementara di lokasi yang terbakar. Langkah tersebut dinilai penting untuk mengakomodir para pedagang agar bisa kembali berjualan.

“September ini ada lokalisir dulu ya yang para pedagang dengan cipta karya bahkan sudah komunikasi dan sudah direncanakan. Ini kan dari instruksi Bupati juga. Jadi dua minggu lagi ini di hamparan, dicor, ada owning, jadi buat loss-loss dulu,” kata Ani Rukmini di pasar Bojong Kedungwaringin, Selasa (12/8).

Masih katanya, revitalisasi pasar Bojong secara keseluruhan baru akan dilaksanakan di tahun 2027. Hal itu dipastikan karena sudah masuk dalam RPJMD dan menjadi program prioritas. Kendati demikian, Ani meminta agar Dinas Perdagangan terlebih dahulu melakukan inventarisir juga tahapan-tahapan menuju pembangunan pasar sejak sekarang.

“Saya sih sampaikan 2027 harusnya udah bisa dibangun dengan berapa tahapan,” tegasnya.

Meski menjadi program prioritas, lanjut Ani, pihaknya masih akan melakukan kajian-kajian pembangunan pasar Bojong. Terdapat dua pilihan untuk merevitalisasi pasar bojong secara keseluruhan. Diantaranya menggunakan APBD atau melalui pihak ketiga dalam hal ini Bangun Guna Serah (BGS). Namun Ani memastikan bahwa pihaknya akan melihat kemampuan APBD Kabupaten Bekasi.

“Tapi tentu kalau pihak ketiga berarti kan BOT itu kan juga masuk memang bagaimana pembiayaannya aset-aset daerah yang memiliki nilai ekonomi gitu, itu juga baik. Ya tinggal nanti bagaimana bekerja dengan pihak ketiga hal-hal yang menimbulkan permasalahan itu bisa diantisipasi,” terang Ani.

Ani mendorong apabila menggunakan skema BGS, harus benar-benar dikerjakan oleh pihak ketiga yang memiliki kredibilitas, integritas, kapasitas dan isi tas. Kemudian standar-standar sebuah pasar yang ideal seperti sistem drainase, tempat penampungan sampah, tingkat kerapihan, kenyamanan, keamanan juga perlu dijadikan pertimbangan.

“Isi tas artinya dia memang memiliki kemampuan secara finansial untuk melakukan pembangunan jangan jadi kejadian mangkrak di tengah-tengah gitu kan, itu yang kami harapkan,” tuturnya.

Pasar yang berada di perbatasan Kabupaten Bekasi dengan Karawang ini, dikatakan Ani, juga menjadi wajah Kabupaten Bekasi. Terlebih para warga yang berbelanja ke pasar bojong bukan hanya dari Kabupaten Bekasi, tetapi juga dari Karawang. Oleh sebab itu ia juga berharap apabila pasar sudah direvitalisasi harga sewa ruko tidak memberatkan para pedagang.

“Termasuk juga spektrum kesanggupan harga beli kiosk dari para pedagang gitu.
Harga yang paling pas, yang tidak kemahalan tapi juga tidak kemurahan tapi yang bisa sepakati sesuailah dan semuanya merasa damai,” imbuhnya.

Hal terpisah, Ketua Forum Komunikasi Pasar Bojong, Wawan Rukmawan mengungkap pembangunan sementara yang dilakukan pada September mendatang dapat segera terealisasi dan benar-benar sesuai dengan kebutuhan lapak pedagang. Dari hasil inventarisirnya, sebanyak 164 pedagang terdampak kebakaran yang terjadi pada Mei lalu.

“Apapun formasinya dari September minggu kedua mudah-mudahan jangan sampai gagal, dibangun secepatnya agar pedagang ini rapih dan bisa terakomodir parkirnya dan sampahnya,” katanya.

Terkait dengan revitalisasi total yang tengah direncanakan Pemkab Bekasi, Wawan juga berharap nantinya kapasitas lapak dapat mengakomodir para pedagang, agar tidak ada lagi para pedagang yang menjajakan barang dagangannya di jalan dan juga membuat nyaman para pembeli.

“Kemudian kesana ya di 2027 benar-benar pembangunan permanen. Jangan sampai ada kendala lain. Mudah-mudahan dapat dari developer apa dari APBD, BGS, secepatnya dibangun dan pedagang menurut apa yang dikatakan pemerintah daerah,” tandasnya. (ger)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *